Selasa, 02 Oktober 2012

migrasi dan angka ketergantungan


 Migrasi
Ø  Gerak perpindahan penduduk atau migrasi dari suatu daerah ke daerah lainnya merupakan suatu bentuk respon atau reaksi dari adanya variasi keadaan dimana mereka berdiam / hidup. Perkembangan sosial ekonomi antara daerah yang satu dengan daerah lainnya, jarang sekali terjadi kesamaan. Ketidaksamaan ini menimbulkan kesempatan--kesempatan yang berbeda untuk masing-masing daerah. Banyak faktor yang mempengaruhi proses migrasi, sehingga permasalahannya makin rumit dan kompleks. Dari hasil penelitian yang pernah dilakukan terungkap bahwa dorongan utama bagi seseorang atau sekelompok orang untuk melakukan migrasi adalah keinginan untuk memperbaiki mutu/taraf hidup, disini tersirat bahwa faktor ekonomi merupakan motivasi yang dominan dalam migrasi. Meskipun demikian, tidaklah berarti bahwa faktor-faktor lain diluar faktor ekonomi tidak berpengaruh pada keputusan seseorang untuk melakukan migrasi; seperti persepsi seseorang atas reaksinya terhadap perubahan-perubahan yang terjadi antara satu daerah dengan daerah lain juga tidak sama. Karena itu biasanya orang akan pindah ke suatu daerah, bilamana daerah tersebut akan memberikan suatu nilai positif bagi dirinya atau keluarganya.
Macam-macam imigrasi adalah sebagai berikut:
1)      Migrasi permanen
2)      Migrasi sementara
Dengan adanya intervening obtacles (rintangan antara) maka timbul dua proses migrasi yaitu:
1)      Migrasi bertahap
2)      Migrasi langsung
Secara garis besar kenampakan migrasi di indonesia di bagi menjadi dua kemampakan yaitu: urbanisasi dan migrasi intergional atau transmigrasi.
Akibat yang di timbulkan dari migrasi yaitu:
a.      Urbanisasi
Ø  Urbanisasi (migrasi dari desa ke kota) walau urutannya sangat kecil, namun dapat mempengaruhi pola distribusi penduduk secara keseluruhan. Para urbanit kebanyakan terdiri dari golongan umur muda yang sangat produktif serta banyak inisiatifnya. Sebagian akibat dari penduduk yang rata-rata masih muda tersebut memungkinkan pertumbuhan penduduk yang pesat di kota, dan bagi pembangunan desanya sedikit banyak akan mempengaruhi kelancaran.
b.      Migrasi interegional
Ø  Migrasi interegional di indonesia kebanyakan di laksanakan oleh mereka yang berumur produktif dan kreatifitas tinggi. Hal tersebut memungkinkan tingginya angka pertumbuhan penduduk serta tingkat laju pembangunan di luar jawa. Di DKI Jakarta sebagai akibat adanya migrasi interegional pertumbuhannya menjadi sangat cepat sehingga  pada tahun 2000 penduduknya menjadi sekitar 16,6 juta jiwa (sehingga jakarta akan menduduki urutan ke 10 dari kota-kota besar di dunia).
Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin mempunyai peranan yang sangat penting hanya dapat mengetahui:
·         Pertumbuhan penduduk di suatu daerah termasuk cepat atau lambat.
·         Rasio ketergantungan.
·         Jumlah wanita dalam usia subur.
·         Jumlah tenaga kerja yang tersedia.
·         Berdasarkan tempat tinggal.
·         Bentuk piramida penduduk.
Menurut John Clark pertumbuhan penduduk dikatakan cepat bila golongan umur 0-14 tahun lebih dari 40% dari golongan umur 60 tahun dan lebih sama atau kurang dari 10%. Untuk mengretahui pertumbuhan penduduk suatu daerah cepat atau lambat dapat juga dilihat dari bentuk piramida penduduk. Karena dengan melihat bentuk piramida penduduk akan di ketahui mengenai perbandingan jumlah penduduk anak-anak, dewasa, dan orang tua pada wilayah yang bersangkutan. Keadaan struktur atau komposisi penduduk yang berbeda-beda akan menunjukan bentuk piramida yang berbeda-beda pula.
Ada tiga jenis struktur penduduk :
1)      Piramida penduduk muda
Ø  Piramida ini menggambarkan komposisi penduduk dalam pertumbuhan dan sedang berkembang. Jumlah angka kelahiran lebih besar dari pada jumlah kematian. Bentuk ini umumnya kita jumpai pada negara-negara yang sedang berkembang. Misalnya: india, brazilia, indonesia.
BENTUK PIRAMIDA PENDUDUK MUDA
PRIA/WANITA                                            GOLONGAN UMUR
                                                75 -
                                                70 - 74
                                                65 - 69
                                                60 - 64
                                                55 - 59
                                                50 - 54
                                                45 - 49
                                                40 - 44
                                                35 - 39
                                                30 - 34
                                                25 - 29
                                                20 - 24                        
                                                15 - 19
                                                10 - 14
                                                   5 - 9
                                                   0 - 4
10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 9 10                                                                            0 1 2 3 4 5 6 7 8 22   
          Penduduk dalam jutaan (Sumber :SUPAS BPS 1976)
2)      Piramida penduduk Stationer
Ø  Bentuk piramida ini menggambarkan keadaan penduduk yang tetap (statis ) sebab tingkat kematian rendah dan tingkat kelahiran tidak begitu tinggi. Piramida penduduk yang terbentuk sistem ini terdapat pada negara-negara yang maju seperti: Swedia, Belanda, Skandinavia.
BENTUK PIRAMIDA PENDUDUK STASIONER
PRIA/WANITA                                         GOLONGAN UMUR
75-
70-74
65-69
60-64
55-59
50-54
45-49
40-44
35-39
30-34
25-29
20-24
15-19
10-14
5-9
0-4
10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 9 10                                                          0 1 2 3 4 5 6 7 8
Penduduk dalam jutaan
(Sumber : SUPAS BPS 1976)
Piramida penduduk tua
Ø  Bentuk piramida penduduk ini menggambarkan adanya penurunan tingkat kelahiran yang sangat pesat dan tingkat kematian kecil sekali. Apabila angka kelahiran jenis kelamin pria besar, maka suatu negara bisa kekurangan penduduk. Negara yang bentuk piramida penduduknya seperti ini adalah : Jerman, Inggris, Belgia, Perancis.
BENTUK PIRAMIDA PENDUDUK TUA
PRIA/WANITA                                                               GOLONGAN UMUR
75-
70-74
65-69
60-64
55-59
50-54
45-49
40-44
35-39
30-34
25-29
20-24
15-19
10-14
5-9
0-4
10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 9 10                                          0 1 2 3 4 5 6 7 8 22
Penduduk dalam jutaan
(Sumber : SUPAS BPS 1976)
Rasio ketergantungan ( Dependency of ratio)
Dari komposisi penduduk menurut umur dapat dipakai untuk menghitung rasio ketergantungan. Yang di maksud dengan rasio ketergantungan adalah angka yang menunjukan perbandingan jumlah penduduk golongan umur yang belum produktif dan sudah tidak produktif kerja lagi dengan jumlah penduduk golongan umur produktif kerja. Biasanya dinyatakan dalam persen (%). Batas golongan  umur produktif kerja (aktif ekonomi) , masing-masing daerah/negara berbeda-beda. Biasanya antara umur 15 tahun sampai 65 tahun.  Jadi makin tinggi jumlah penduduk usia muda  dan jompo makin besar rasio ketergantungan. Artinya beban penduduk pada kelompok umur produktif kerja (aktif ekonomi) untuk dapat menghasilkan barang atau jasa ekonomi bagi golongan umur muda dan jompo adalah tinggi. Penggolongan umur penduduk dalam kelompok produktif sangat berpengaruh dalam lapangan penghidupan produktivitas kerjanya dalam lapangan  produksi.
Penggolongan umur menurut Widjojo, Pullerd dan John Clark:
·         0 – 14 golongan belum produktif
·         15 – 64 golongan produktif
·         65 ke atas golongan tidak produktif
Diambil dari: Buku MKDU ILMU SOSIAL DASAR (Harwantiyoko dan Neltje F. Katuuk) Penerbit GUNADARMA.

Nama: Nadia Susanti
Kelas: 1KA37
NMP: 18112261

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar